Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

PENYAKIT TAJUK (CROWN DESEASE) ATAU JUGA PELEPAH MENGERING PADA KELAPA SAWIT

Penyakit tajuk (penyakit mahkota, crown desease) sering dijumpai di kebun yang belum menghasilkan, dan merupakan penyakit yang paling mencolok disini. Pada umumnya penyakit hanya terdapat di kebun yang berumur 1-3 tahun setelah penanaman di lapangan. Sesudah itu penyakit sembuh dengan sendirinya, dan bekas tanaman sakit berkembang seperti tanaman biasa. Meskipun demikian tanaman agak terlambat pertumbuhannya jika dibandingkan dengan tanaman yang tidak mengalami gangguan.

Penyakit tajuk terutama terdapat di Indonesia dan Malaysia, yang bahan tanamannya adalah keturunan Deli. Di Sumatera Utara terdapat kebun-kebun muda yang lebih kurang 10 % dari tanamannya bergejala penyakit tajuk.

a. Gejala
Tanaman muda yang sakit mempunyai banyak daun yang membengkok ke bawah di tengah pelepahnya. Pada bengkokan ini tidak terdapat anak daun atau anak daunnya kecil, atau robek-robek. gejala ini mulai tampak pada janur. Di disini anak-anak daun yang masih terlipat itu tampak busuk pada sudut atau tengahnya.

Untuk sementara tanaman terhambat pertumbuhannya tetapi kelak akan sembuh dengan sendirinya. Meskipun demikian ada kalanya tanaman yang sembuh tadi menjadi sakit kembali, yang nantinya akan sembuh untuk seterusnya.

b. Penyebab Penyakit 
Penyakit ini sudah mulai diteliti 70 tahun yang lalu (Heusser, 1927), namun sampai sekarang penyebabnya belum diketahui. Dari jaringan yang busuk dapat diisolasi bermacam-macam jamur, khususnya Fusarium oxysporum Schl. dan F. solani (Mart.) Sacc. (Turner, 1973), namun jamur-jamur ini kalau diinfeksikan ke tanaman sehat tidak ada yang mampu menimbulkan penyakit. Selain itu juga diketahui bahwa penyakit tajuk tidak menular.

Ada yang menduga bahwa gejala tersebut diatas disebabkan oleh kelebihan nitrogen. Ada juga yang menduga bahwa gejala ini disebabkan oleh defisiensi magnesium. Namun pendapat-pendapat tersebut tidak dapat dibuktikan dengan percobaan-percobaan.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit 
Dari penelitian Donkersloot (1955ab) dan de Berchoux dan Gascon (1963) disimpulkan bahwa kerentanan terhadap penyakit tajuk terutama diturunkan oleh bahan tanaman asal Deli meskipun bahan tanaman asal Afrika pun tidak sama sekali bebas dari penyakit. Kerentanan terhadap penyakit ini ditentukan oleh satu gen resesif. Meskipun demikian masalahnya menjadi sulit karena adanya gen inhibitor yang mempersukar usaha untuk mengetahui adanya gen rentan pada sesuatu keturunan (Blaak, 1970).

d. Pengelolaan Penyakit 
Karena penyebab penyakit nya belum diketahui, sampai sekarang tidak ada anjuran pengelolaan yang dapat diberikan dengan mantap. Pada umumnya pekebun cenderung untuk membiarkan penyakit itu, karena tanaman akan sembuh dengan sendirinya. Dengan demikian mereka terpaksa menerima kerugian yang terjadi karena terhambatnya pertumbuhan beberapa tanaman.

Untuk mengurangi penyakit tajuk ada yang berpendapat agar bahan tanaman asal Deli tidak dipakai. Tetapi dengan sendirinya pendapat ini akan menyebabkan hilangnya sifat-sifat baik dari bahan tanaman asal Deli, dan juga akan menyebabkan terjadinya kekurangan bahan tanaman yang cukup serius, karena semua bahan tanaman yang dibudidayakan disini mempunyai darah Deli. Dengan demikian mungkin akan terjadi kerugian yang lebih besar daripada kerugian yang terjadi karena penyakit tajuk dewasa ini.

Sehubungan dengan adanya jamur pada bagian yang membusuk pada tanaman yang sakit, ada yang berusahan untuk menyembuhkannya dengan memakai fungisida. Namun karena masih diragukan bahwa jamur yang menyebabkan penyakit, perawatan dengan fungisida memberikan hasil yang tidak menentu. Sebelum diperlakukan, janur dipotong sedalam mungkin (sedekat mungkin dengan titik tumbuh). Bagian yang terbuka disemprot dengan fungisida sampai basah benar. Pada pemotongan tadi hanya janur yang belum membuka yang dibuang. Daun-daun sakit yang lebih tua tidak perlu dipotong, karena perkembangan jamur akan terhenti jika janur membuka. Bahkan pemotongan ini akan menyebabkan tanaman muda yang sakit kehilangan banyak jaringan yang dapat mengadakan asimilasi yang sangat diperlukan. Fungisida yang dipakai untuk keperluan ini adalah tiabendazol, tiram atau benomil (Turner, 1973).

Disalin dari :
Semangun, H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Cet-4 (revisi) Februari 2000.

1 komentar untuk " PENYAKIT TAJUK (CROWN DESEASE) ATAU JUGA PELEPAH MENGERING PADA KELAPA SAWIT"

  1. What are the best casino sites in India for 2021? - CasinoSites.One
    Indian 해축 보는 곳 casinos are 라이트닝바카라 a 포커 카드 great place to play casino games with Indian pci e 슬롯 players in India, 토토 먹튀 although we recommend to stay away from the

    BalasHapus